Jumat, 06 Januari 2012

Dari Kami untuk Negeri


Negeri Indonesia adalah negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam. Negara kepulauan dengan berpuluhan ribu pulau yang masing-masing mempunyai potensi kekayaan alam yang luar biasa. Perairannya menyimpan berbagai kemilau mutiara. Tetapi, apakah pada hari ini, masing-masing penduduknya memiliki kekayaan dan bisa menikmati kekayaan itu? Apakah pada hari ini tidak ada lagi rakyat yang mengeluh kelaparan karena negara ini adalah negara agraris yang sebagian masyarakatnya adalah bertani menghasilkan makanan pokok? Dan apakah sudah tidak ada lagi para pekerja paksa seperti jaman penjajahan kolonial?
Ketika kita membuka mata dan pikiran, melihat dan memahami realitas menyedihkan yang dialami oleh bangsa ini, sungguh tidak wajar bila kita masih merasa negeri ini sedang baik-baik saja. Berpuluhan kali kita merayakan hari kemerdekaan dengan suka cita, padahal banyak sekali orang-orang yang tidakpernah kita ketahui keadaanya, merasa belum pernah merasakan kemerdekaan sesungguhnya bagi diri mereka. Rakyat kelas bawah yang masih bingung memikirkan besok bisa makan atau tidak, para pekerja pabrik yang upahnya bahkan tidak sesuai dengan keringat yang mereka keluarkan. Itu adalah sekelumit contoh realita rakyat negeri ini.
Sebuah film dokumenter karya John Pilger yang menggambarkan sebuah dampak globalisasi, membuat bertambah miris hati kita. Bagaimana tidak, di dalam film itu di tunjukkan bahwa Perusahaan-perusahaan yang memproduksi merk-merk terkenal seperti : GAP, NIKE, dll ternyata membayar  para buruhnya dengan upah yang sangat rendah. Perusahaan besar ini sengaja mencari negara-negara miskin yang memilki SDM yang banyak, kemudian para SDM itu mau untuk dijadikan pekerja, walaupun dengan upah yang sangat minim. Dari hasil produksi sebuah sepatu yang berharga 1,4 juta, mereka hanya mendapatkan bagian 5ribu rupiah per sepatu. Sedangkan dari produksi sebuah boxer yang harganya 112ribu, para buruh ini hanya mendapatkan 500perak per potong. Data ini di dapatkan John Pilger, seorang peneliti dari Australia yang melakukan wawancara dengan beberapa buruh yang bekerja di perusahaan yang menproduksi barang-barang mewah dan elite tersebut. Dan para buruh ini bekerja di bawah sentrongan lampu yang watt-nya tinggi. Mereka tidak boleh lengah sedikitpun, apalagi kalau ada tuntutan barangnya harus di ekspor, para buruh ini bisa bekerja selama 18 -20jam nonstop.
Hal itu adalah sekilas potret penderitaan rakyat ini. Belum lagi potret-potret kerusakan sistem. Seperti politisasi pendidikan, kasus-kasus korupsi, fenomena penyelewengan hukum, dan masih banyak lagi tentunya. Latar belakang ini yang mendorong kami sebagai himpunan bagian dari masyarakat negeri ini untuk ikut bergerak dalam memperbaiki negeri. Dengan mengambil peran dan tindakan yang sesuai dengan kedudukan kami sebagai mahasiswa, kami akan melakukan pergerakan perubahan itu. Memang kami tidak mempunyai kekuatan untuk merubah sistem, tapi kami mempunyai kemauan untuk membangun kekuatan itu.
Kini, kami sedang menempuh pendidikan karir. Dan kami berjanji kami tidak akan menjadi bibit bangsa yang tidak berguna atau bahkan tidak peduli terhadap negeri yang sedang menangis ini. Kami akan menyumbangkan karya-karya terbaik kami untuk negeri ini. Karya-karya yang kami lahirkan sesuai dengan bidang karir yang kami tempuh. Dan karya-karya itu, bukan hanya untuk memperkaya diri kami sendiri, tapi melalui karya itulah bentuk kontribusi kami untuk negeri ini. Semakin banyak bibit unggulnya membuahkan karya-karya besar untuk bangsa ini, maka bangsa ini akan terbangun. Negeri yang besar dan berperadaban maju, adalah negeri yang mempunyai bibit yang mampu menjadi orang-orang besar yang peduli terhadap keadaan bangsanya. Bukan orang-orang besar yang hanya peduli terhadap kebesaran dirinya sendiri.
Kami akan menunjukkan bahwa kami bisa dan mau untuk memulai perjuangan ini. Kami akan menjadi anak-anak bangsa yang mampu bersaing dengan negara lain. Menunjukkan kembali kebesaran negeri ini yang sejarahnya dikenal seluruh dunia. Mengembalikan kejayaan yang pernah diraih oleh Majapahit dan Sriwijaya pada jamannya. Sejarah itu menunjukkan pada kita, bahwa negeri ini punya potensi dan potensi tersebut bisa diwujudkan.
Kami akan menjadi para ahli di bidang kami masing-masing, untuk kemudian bersatu dan membangun negeri. Analoginya adalah seperti apabila kita ingin memperbaiki sebuah kapal yang rusak dan ingin bisa menjalankan kapal tersebut untuk di bawa berkeliling samudra, kita harus memilki beberapa ahli bidang yang di butuhkan,misalnya seperti teknisi kapalnya, ahli nahkodanya, ahli peta dan arahnya, dll. Barulah kapal yang rusak tadi bisa diperbaiki dan dijalankan. Begitu pula sama halnya apabila kita ingin memperbaiki dan kemudian membangun negeri ini. Tanpa ahli, kita akan sulit membangunnya. Apalagi bila hanya melalui jalur underground saja.
Maka dari itu, disini kami berdiri dan berkomitmen, untuk bisa menjadi pemuda yang karirnya berguna untuk membangun masyarakat dan negeri ini. Mengubah paradigma budak yang didoktrinkan pada rakyat sejak jaman penjajahan yang berabad-abad lamanya. Menerapkan sistem keseimbangan di berbagai sektor. Bukan ideologi kapitalis ataupun liberalis, dimana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Tunggulah karya-karya besar yang akan kami persembahkan hanya untuk padamu negeri. Karena kami tidak hanya menikmati karya-karya orang besar, tetapi kami juga akan selalu belajar bagaimana mesin-mesin pembuat karya itu bekerja, bangunan epistimologinya untuk bisa menghasilkan karya besar. Dari kami untuk negeri. 


Oleh : 
Adelia Savitri_Sasindo UA
yang tidak pernah lelah membangun negeri 

0 komentar:

Posting Komentar

 
;