Jumat, 18 September 2015

Cerita LPDP Part-4: Wawancara


Ketika wawancara, peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Peserta dengan nomor kelompok wawancara yang sama akan menghadapi interviewer yang sama. Beberapa orang ada yang bilang bahwa peserta dikelompokkan berdasarkan bidang keilmuan yang serumpun. Tapi nampaknya itu tidak terjadi pada saya, karena dalam kelompok saya ada peserta dari pendaftar beasiswa dokter spesialis. Jadi, kita tetap harus bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang ada.

Ruangan wawancara merupakan aula luas dengan beberapa meja. Setiap meja sudah diberi nomor sesuai dengan nomor kelompok. Karena saya kelompok 6, ketika masuk ke ruangan wawancara, saya langsung menuju meja nomor 6. Di sana sudah ada 3 orang interviewer (yang pasti ada 1 psikolog dan 2 orang ahli bidang tertentu berpangkat minimal Doktor). Siapa pun interviewer itu, mereka adalah orang-orang yang expert, dan benar-benar bisa mengorek kita adalah tipe orang yang seperti apa. Jadi, jangan coba-coba berbohong di depan mereka.

Saya pun melangkah menuju meja nomor 6 itu dengan senyum secerah mentari pagi (Bagaimana pun saya merasa senang telah berada di tahap ini setelah lika-liku yang saya alami). Kalimat pertama saya, “Permisi, boleh saya duduk?” Ini dapat menunjukkan kesopanan kita di depan interviewer. Psikolog yang berada di sebelah kanan kemudian memperkenalkan dirinya dan 2 orang interviewer lain. Alangkah terkejutnya saya bahwa tak satu pun dari interviewer itu yang merupakan ahli di bidang budaya atau setidaknya bidang sosial. Interviewer kedua Profesor teknik dan Interviewer ketiga Dokter Spesialis.

Lalu percakapan saya dengan interviewer tersebut kurang lebih begini:

I : Ceritakan tentang diri anda, latar belakang keluarga, mau melanjutkan studi ke mana, luar negeri atau dalam negeri, kenapa memilih universitas itu, apa saja yang anda lakukan ketika kuliah, kalau ada prestasi sebutkan prestasinya apa saja, kalau ada kegiatan sosial yang sedang/pernah dilakukan juga ceritakan. Untuk pertanyaan pertama dan kedua nanti, tolong jawab pakai bahasa Inggris ya J

(Baiklah dengan the power of kepepet saya pun alhamdulillah bisa menjawab semua itu dengan speaking english meskipun dengan beberapa ee..ee..ee.. tapi it’s okay lah ya, yang penting bisa ngomong).

Wawancara bisa saja berlangsung 100% bahasa Inggris atau 100% bahasa Indonesia atau 25% bahasa Inggris 75% bahasa Indonesia, sehingga bersiap-siaplah dengan segala kemungkinan yang ada. Bila perlu, kita memang harus latihan wawancara bilingual dengan teman yang mahir berbahasa Inggris, atau pun berlatih sendiri di depan cermin.

I: Jelaskan bagaimana kemampuanmu membagi waktu antara organisasi dan studi, karena kegiatan kemahasiswaanmu kan banyak, tapi IPK mu tetap bagus.

(Interviewer berganti ke Profesor yang ada di sebelah psikolog. Nah, yang ini agak horor) Kurang lebih rentetan pertanyaan Profesor itu begini:

I: Skripsi kamu meneliti militerisme dalam novel, terus manfaatnya penelitian skripsimu bagi masyarakat apa ya? (setelah saya jelaskan panjang lebar, lalu beliau mendalami rancangan tesis saya)

Oh begitu, lalu untuk tesis nanti kamu mau neliti apa? Militerisme lagi? Atau beda? (setelah saya singgung sedikit seperti yang saya tulis di rencana studi, beliau bertanya lagi)

Kenapa kamu mau neliti novel-novel itu dan nanti manfaatnya apa ya? Maaf ya mbak, saya masih kurang mengerti penelitian sastra itu gunanya untuk apa ya? (Apapun yang terjadi, dalam pikiran saya this is just a test! Jadi, janganlah terpancing untuk mengeluarkan sisi emosional (baik itu sedih ataupun marah) di hadapan interviewer. Karena setiap kita menjawab pertanyaan dari para interviewer lain, sang psikolog tetap memperhatikan setiap jawaban kita, cara kita menjawabnya, dan kematangan emosional kita juga dinilai). Saya pun menjawab pertanyaan itu seperti ini:

Begini pak J, produk penelitian sastra berbeda dengan produk penelitian sains dan teknologi, karena produk penelitian sastra adalah pemikiran, yang tidak empiris dan tidak konkret. Penelitian sastra dapat memberikan perspektif baru terhadap kondisi sosial yang sedang terjadi, karena objek penelitiannya adalah karya sastra, dan karya sastra sendiri merupakan refleksi kritis pengarang terhadap kondisi sosial di lingkungannya. Bentuk refleksi itu bisa berupa kritik, dukungan, atau tawaran solusi. Dan untuk melihat dampaknya bagi masyarakat, kita tidak bisa melihat dampak itu secara langsung, harus melalui proses. Karena untuk menerima pemikiran baru, masyarakat tentunya butuh proses internalisasi terhadap nilai-nilai baru itu, dan mereka bisa menolak maupun menerimanya. Karya sastra yang baik adalah karya yang kaya nilai-nilai pembangunan karakter, penelitian sastra fungsinya adalah untuk membantu masyarakat memahami kandungan nilai-nilai dalam karya sastra itu, sehingga terjadi proses pembangunan karakter dalam masyarakat. Tak lupa saya memberikan contoh-contoh karya sastra yang membawa pengaruh perubahan sosial, seperti karya-karya Pramoedya, Ayu Utami, Rendra, Chairil Anwar. Hal ini untuk memberikan pemahaman, bahwa membaca karya sastra tentu ada manfaatnya sehingga meneliti sastra pun ada gunanya.

Melihat ketiga interviewer manggut-manggut dengan jawaban saya itu, rasanya seperti ada angin sejuk yang berhembus di atas ubun-ubun, lalu turun ke jantung, dan menurunkan kecepatan dag-dig-dug yang saya rasakan sejak awal.

lalu pertanyaan berlanjut:

Kamu sudah diterima di UI ya? Nanti di UI ada tidak, dosen yang ahli di bidang tesis kamu ini? Sudah pernah kontak dengan dosen-dosen di sana belum? Belum ya? (Profesor ini gayanya tidak mencetuskan satu pertanyaan, tunggu dijawab, baru tanya lagi. Bukan model begitu, tapi pertanyaannya grosiran kayak gitu sehingga saya harus nunggu beliau benar-benar berhenti, baru saya menjawabnya)

Oh gitu ya. Terus, nanti setelah selesai S2, mau kerja jadi apa? (setelah saya jawab bahwa saya ingin menjadi dosen sastra) Mau jadi dosen di mana? Di Universitas asalmu? (saya jawab: di Universitas mana pun yang membutuhkan keahlian saya, bagi saya yang terpenting adalah bisa mengamalkan ilmu saya)

Belum selesai saya bicara, langsung dipotong pertanyaan lebih lanjut: Emangnya di Universitas asalmu tidak butuh dosen sastra? Emangnya jumlah dosen sastra di situ berapa? Jumlah mahasiswanya berapa? (Setelah saya jawab, kenapa saya tidak “mengharuskan” diri untuk mengajar di universitas asal saya, peluang-peluang yang ada di sana, perbandingan jumlah dosen dan mahasiswanya, baru lah interviewer dapat memahami jawaban saya sebelumnya). Pertanyaanpun berlanjut:

Kamu lulus tahun 2014, lalu kenapa baru mendaftar periode 2015 ini? Apa saja yang kamu lakukan selama rentan waktu itu? (Saya menjelaskan hambatan-hambatan yang telah saya lalui ketika akan mendaftar beasiswa ini). Dan saya ditanya: Apa yang membuat kamu bertahan untuk terus mendaftar? Karena saya punya mimpi, dan saya tidak ingin menunda untuk mengejar mimpi itu.

Setelah interviewer kedua merasa cukup, lanjut ke interviewer ketiga yang lebih banyak menanyakan tentang kegiatan organisasi yang saya ikuti, kegiatan sosial yang pernah dan sedang saya lakukan saat ini, saya dibayar atau tidak ketika melakukan kegiatan itu, dan apakah saya mengikuti organisasi mahasiswa eksternal lainnya atau tidak.

Nampaknya, ketiga interviewer memang sudah mempunyai peran yang berbeda untuk menggali diri kita. Sang psikolog bertugas mengorek tentang kepribadian sambil mengamati kita ketika wawancara berlangsung. 1 interviewer yang fokusnya di bagian studi, tesis, penelitian, hal-hal yang berhubungan dengan studi, dan kontribusi kita nanti setelah lulus. Dan 1 interviewer yang lain fokusnya di bagian kegiatan sosial atau organisasi yang pernah ikuti.

Namun berdasarkan hasil bincang-bincang dengan peserta-peserta lainnya, ada juga yang tidak banyak ditanya tentang tesisnya. Ada yang wawancaranya penuh dengan canda-tawa. Ada yang lebih horor dari saya, bahkan peserta lain ada yang ke luar dari ruang wawancara dengan mata berkaca-kaca dan mengeluh aduuuh teesiskuu atau aduuh disertasikuu, mati aku.. Ada juga yang hanya ditanya-tanya tentang keluarganya dan hal-hal pribadi lainnya. Ada peserta yang disuruh baca pembukaan UUD ’45. Ada juga yang diajak curhat sama interviewernya. Semuanya tergantung pada interviewer masing-masing. Apapun yang kita hadapi, kita harus senantiasa optimis, percaya diri, dan yakin selama niat kita benar-benar tulus dan baik, pasti akan ada kemudahan demi kemudahan. Jika kita sudah merasa ciut di awal, hal itu hanyalah berdampak buruk bagi diri kita. Tunjukkan bahwa kita adalah orang yang mereka cari. Karena sekali lagi, yang saya tau LPDP tidak menentukan batas kuota berapa jumlah peserta yang diterima setiap periodenya. Selama kita layak, kita akan lulus.

Dan alhamdulillah, setelah melewati perjalanan panjang itu.. setelah banyak yang bertanya, jadi nggak S2? Katanya udah ketrima UI, kapan berangkat? Dan sebelumnya saya hanya bisa menjawab, belum tau masih nunggu beasiswa. Sekarang saya bisa jawab, Iyaa. Jadi. Saya sudah dapat beasiswa. J    

46 komentar:

Unknown mengatakan...

Wow! Selamat atas ketrima beasiswanya mbak :)
Infonya sangat inspiratif dan memotivasi, saya baca dari part 1 hingga akhir bikin saya terpukau (haha)!
Perkenalkan mbak, nama saya Laksita. Saya juga lulusan S1 dari Universitas Airlangga angkatan 2011. Baru lulus Spetember 2015 kemarin. Saya juga tertarik untuk S2 dengan beasiswa LPDP ini.
Namun banyak dokumen-dokumen yang masih belum lengkap, saya niati untuk ikut di periode tahun depan. Terutama untuk rencana studi.
Mbak cerita kalau rencana studi perlu dikonsultasikan dengan dosen selama 5-6 bulan ya? Nah, masalahnya saat ini saya masih "putus hubungan" sama dunia kampus, sehingga rencana studi belum tersirat sama sekali di benak saya. Tapi saya berencana untuk mengambil penelitian yang merepet dengan ilmu jurusan saya (bukan dari skripsi saya). Sehingga maksudnya saya ingin merencanakan penelitian saya terlebih dahulu, baru kemudian saya konsultasikan dengan dosen instansi setelah saya mendaftar.
Nah, menurut mbak nya, apakah pemikiran saya yang masih general ini masih ada kesempatan untuk ketrima di beasiswa LPDP ini ya di periode tahun depan?
Terima kasih atas perhatiannya dan jawaban/solusi nya :D
Salam sejahtera.

Adelia Savitri mengatakan...

Dear mbak Laksita,
trima kasih sudah mampir di blog saya.
Untuk rencana studi sebenarnya tergantung kita, tidak harus konsul ke dosen jg tdk apa apa. Asalkan rencana studi kita sudah matang dan riset yg akan kita kerjakan memberi manfaat bagi masyarakat. Karena itu pasti akan ditanya oleh reviewer kalo kita lolos seleksi administrasi dan wawancara.. Jadi, persiapkan saja semuanya secara matang. Kalo perlu kita jg sudah tau, di universitas tujuan kita nnti, apakah ada pengajar yg ahli di bidang riset tesis kita.

Semangat ya. Semoga lolos.

Unknown mengatakan...

Assalamualaikum,
Sebelumnya, selamat untuk adelia yang udah lolos LPDP. :)
Dan terimakasih sudah menuliskan likaliku perjalanan meraih LPDP, tulisannya sangat membantu. :)

ceritadeptemberdiniya mengatakan...

Salam Kenal dari Aceh buat mbak Adelia.
Saya Diniya, lulusan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
tulisan mbak sangat menginspirasi saya untuk terus melakukan perbaikan dalam mengikuti tes beasiswa lpdp ini. sebelumnya saya pernah gagal di interview, dan sekarang adalah kali terakhir kesempatan untuk saya. semoga tulisan mba ini bisa menjadi salah satu jalan penerang saya untuk mendapatkan beasiswa ini. aaamiiin ya Rabb.

Adelia Savitri mengatakan...

Dear Martha Retnaningtyas, terima kasih sudah membaca blog saya. Alhamdulillah, senang sekali jika tulisan ini dapat memberikan manfaat. Semoga sukses.

Adelia Savitri mengatakan...

Dear Diniya dan Agus Saftia,
Haloo yang dari Aceh.. Terima kasih sudah membaca blog saya.
Alhamdulillah, semoga sukses di seleksi LPDP yang kedua. Tetap semangat dan jangan pernah berhenti untuk mewujudkan impiannya. Semogaa lolos LPDP-nya. Aaamiiin.

Husni Mubarak mengatakan...

Assalamualaikum mbak adelia savitri, informasinya sangat membantu. Mau bertanya mbak, syaray untuk mendaftar LPDP dalam negeri apakah kita harus diterima dulu di universitas tujuan, misal univ tujuan UI. Terimakasih

Husni Mubarak mengatakan...

Assalamualaikum mbak adelia savitri, informasinya sangat membantu. Mau bertanya mbak, syaray untuk mendaftar LPDP dalam negeri apakah kita harus diterima dulu di universitas tujuan, misal univ tujuan UI. Terimakasih

Adelia Savitri mengatakan...

Dear Husni Mubarak,
Wa'alaikumsalam. terima kasih sudah mampir di blog saya.
Syarat LoA itu tidak wajib. Artinya, untuk mendaftar beasiswa LPDP, kita tidak harus diterima dulu di universitas. Banyak juga rekan-rekan awardee yang baru memburu universitas setelah keterima beasiswa LPDP.
Semangat dan semoga sukses.

Unknown mengatakan...

Mau tanya, mbak
Kemarin waktu daftar lpdp, mbak sudah diterima di UI?
Bukannya lpdp itu perkuliahan baru bisa dimulai 6 bulan setelah penutupan pendaftaran ya, mbak?
Atau ada peraturan khusus, mbak?
Makasih

idham1390 mengatakan...

Hallo Mba Adelia, selamat ya mba atas kelulusan LPDP-nya. Btw, mau tanya, kan katanya kebetulan kelompok interviewernya di bagi berdasarkan rumpun keilmuan, ternyata tidak ya. Apakah waktu itu mba Adelia mendapatkan interviewer yang memiliki bidang berbeda? Apa mereka bisa memahami thesis kita?

Unknown mengatakan...

waah selamat beasiswanya mba. kalau boleh tau, mba daftar ke ui dulu atau lpdp dulu?:)

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Sandra Nur Fitri..
Benar sekali, jarak antara pendaftaran beasiswa dengan perkuliahan paling cepat 6 bulan.
Saya memang dapat LoA duluan, setelah keterima UI, saya mengajukan tunda kuliah (differ) ke semester berikutnya sehingga tidak langsung masuk di ajaran baru saat saya diterima. Demikian infonya, semoga membantu.

Adelia Savitri mengatakan...

Halo idham,
biasanya memang reviewer merupakan orang yg expert dan berasal dari bidang ilmu yg serumpun dgn kita, tetapi pada kasus saya dulu kebetulan tidak.seperti itu.. Jika hal itu terjadi, anggap saja tantangan yg hrs dipecahkan. Pengalaman saya, ada reviewer yg tdk paham sama sekali dengan rancangan tesis saya, tetapi kita hrs dapat menjelaskannya secara detail dan meyakinkannya bahwa apa yg kita kerjakan tsb pastilah bermanfaat. Semua reviewer merupakan orang yg terbuka dgn hal baru dan mampu berpikir objektif. Jadi, tetap percaya diri saja.

Adelia Savitri mengatakan...

Halo kiki.. Saya daftar UI dulu, setelah ketrima, mengajukan tunda kuliah ke UI, lalu ikut seleksi lpdp.

Unknown mengatakan...

Assalamuallaikum Mba Adel,
Mba, rencananya saya mau daftar LPDP term skrg, maks pendaftaran 15 April tapi rencananya saya mendaftar UI tahun ini. Nah, itu bagaimana ya mba kan s2 biasanya dimulai sekitar September (hanya 5 bulan)? saya coba mencari info kapan s2 ui di jurusan yang saya tuju dimulai tapi tidak saya temukan infonya, dan biasanya s2 dimulai bulan September... nah baiknya saya mendaftar dengan keterangan dimulai bulan apa ya mba? apakah baiknya tetap saya tulis Oktober atau bagaimana ya? saya inginnya tetap memulai tahun ini karena saya lulus 2015, supaya tdk terlalu terlambat...
terimakasih mba..

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Arindah,

Aturan LPDP memang jarak dari batas akhir pendaftaran ke bulan masuk kuliah paling cepat 6 bulan. Sebaiknya diisi sesuai dengan jadwal intake kuliah. Biasanya perkuliahan di UI pd semester gasal memang dimulai September. Ada juga Prodi yg membuka perkuliahan pd semester genap yg dimulai Februari (tetapi tidak semua prodi).
Saran saya, lebih baik bertanya lebih lanjut ke Humas Fakultas yg dituju apakah membuka ajaran baru di semester genap atau tidak, untuk berjaga-jaga bila tidak bisa intake smster ini.
Batas paling cepat 6 bulan itu, sudah dihitung oleh LPDP karena ada beberapa proses yg harus dilalui awardee sebelum kuliah. Pascapengumuman akhir akan ada program.Persiapan Keberangkatan (PK) selama 10 hari.
Misalnya, jika daftar lpdp periode April, biasanya pengumuman akhir seleksi substansif sekitar Juni. Sedangkan bila ketrima UI pada seleksi April ini, daftar ulang akan dilaksanakan jg awal Juni (utk bisa kuliah Sept).
Nah, Bagaimana mungkin kita bisa langsung daftar ulang jika baru ketrima LPDP (belum PK, belum dapat surat kontrak, belum bisa mencairkan dana). Berdasarkan hal-hal tsb yg menyebabkan ada aturan plg cepat jaraknya 6 bln.

Adelia Savitri mengatakan...

Arindah, karena hal tsb saya mengajukan tundakuliah ke semester berikutnya.

DD-AFTW mengatakan...

Assalamualaikum, mbak ade sebelumnya selamat atas kelulusannya lpdp dan ui dan terima kasih banyak untuk tulisannya.
Mbak adel saya rencana mau daftar LPDP diperiode ketiga yaitu bulan april-juni .. Tapi saya ambil prodi d ui jurusan biomedik .. Pendaftarannya pada bulan mei-juni .. Sebaiknya saya daftar ui dulu atau lpdp dulu yah mbak ?
Terima kasih banyak

Adelia Savitri mengatakan...

Halo dhila andi, terima kasih sudah mampir di blog saya..

Sebenarnya tidak ada ketentuan khusus untuk mndaftar Lpdp duluan ato dftar ke univ. duluan. Artinya, terserah kita mau daftar duluan yg mana. Tetapi ada baiknya jarak waktu penerimaan Lpdp dan periode masuk kuliah kita hrs diperhitungkan.

Jika mendaftar Lpdp periode April-Juni ini, berarti baru bisa masuk kuliah plg cepat 6 bulan setelah btas apply dokumen di web Lpdp. Nah, silakan dihitung jarak waktunya. Jika waktu daftar ulang dan periode masuk kuliah tidak terlalu mepet dengan pengumuman penerimaan Lpdp, tidak masalah daftar UI duluan.
Beberapa teman ada juga yg memilih mencari aman, menarget lolos beasiswa dulu, baru mendaftar universitas.

Itu semua terserah pendaftar, yg mana yg terbaik.

DD-AFTW mengatakan...

Terima kasih banyak mbak
Saya kemungkinan ambil gel 3 ui saja mbak
Saya daftar lpdp dulu

Anik mengatakan...

Salam dari banjarmasin..makasih mbak Adelia untk inspirasi dan semangatnyaa..semoga berkah

Anik mengatakan...

Salam dari banjarmasin..makasih mbak Adelia untk inspirasi dan semangatnyaa..semoga berkah

Unknown mengatakan...

Dear Adelia

apakah untuk tes wawancara, LGD, OTS essai untuk yang mendaftar beasiswa ke LN harus menggunakan bahasa inggris atau bahasa Indonesia ?

salam kenal.
Malik

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Malik
Untuk yg LN memang semuanya hrs berbahasa Inggris.
Hal ini karena LPDP lebih ketat menerapkan seleksi utk pendaftar LN. Asumsinya jika ingin ke LN memang hrs mahir berbahasa Inggris.

Demikian infonya.

Unknown mengatakan...

Halo Kak Adelia, terima kasih sudah bagi info dan inspirasi ke kita2 yg niat ikut lpdp.
Kak, ketika daftar lpdp apakah kita boleh ambil kekhususan bidang yg sama tapi di uni yang berbeda? Misal: bidang Biomedik di Uni A dan Uni B.

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Dia..
Menurut yg saya tau, ketika awal daftar LPDP kita hrs memilih satu univ saja.
Jika misalnya, pada saat daftar kita menulis univ. A sbg kampus tujuan. Tetapi kemudian ketika seleksi masuk ke kampus A, ternyata tidak lolos sehingga ikut seleksi lagi di kampus yg berbeda, kampus B misalnya. Di kampus B ternyata lolos. Maka kita boleh mengajukan perpindahan univ ke LPDP.

Danang mengatakan...

halo mbak, kebetulan saya juga sudah diterima UI lebih dulu dan baru mau ikut seleksi LPDP. Yang ingin saya tanyakan berarti mbak dulu sudah membayar dulu ya utk uang kuliah semenster 1 di UI? dan apakah biaya tersebut nanti nya akan di reimburse oleh LPDP

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Danang,
Saya dulu tunda kuliah sehingga baru daftar ulang (dan dibayarin kuliahnya) di semester berikutnya sesuai dgn kesepakatan tundanya..

Memang ada juga bbrpa teman yg sudah bayar kuliah awal pake uang sendiri lalu mengajukan reimburse ke LPDP. Uang pendaftaran Simak pun bisa diajukan utk direimburse..

Demikian infonya. Semoga sukses.

Unknown mengatakan...

halo mba, mau bertanya, kalo mau tunda kuliah untuk pascasarjana UI, langsung dateng ke bagian registrasinya atau gimana mba? terima kasih

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Anta,
Kebijakan dan mekanisme tunda kuliah di setiap fakultas berbeda. Jika ingin tunda kuliah, segera hubungi saja Humas fakultas dan minta dihubungkan dengan akademik fakultas atau Prodi untuk keterangan selengkapnya.
Biasanya kita disuruh mengirim surat pengajuan tunda kuliah kepada Dekan. Nanti pihak jurusan atau fakultas yang akan meneruskan suratnya ke Direktorat Pendidikan (Dirpen) . Jika tunda kuliah yang kita ajukan telah disetujui oleh Dirpen, kita hanya perlu daftar ulang di semester yang akan datang sesuai dengan tunda yang kita ajukan.

Demikian infonya, semoga bermanfaat.

Unknown mengatakan...

mbak, saya ingin bertanya.
saya ingin mengajukan beasiswa lpdp ke ui juga. apakah perlu loa dulu mbak dari ui? terus mendaftar lpdp nya apakah setelah lulus simak ui?

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Dhyta,
seperti tulisan saya sebelumnya, mendaftar Beasiswa LPDP boleh dengan LoA ataupun tidak. Jadi, tidak wajib hukumnya untuk punya LoA lebih dulu.
Boleh mendaftar Beasiswa LPDP dulu, ketrima, baru mendaftar UI.
Demikian infonya. Mohon maaf jika balas komennya lama ya.

Rastrianez mengatakan...

Halo Adelia,
Salam kenal dan selamat telah mendapatkan beasiswa dari LPDP, semoga S2-nya lancar ya.
Saya telah mendaftar untuk Batch 3 tahun 2016 yang telah berakhir pada tanggal 15 Juli kemarin. Kemudian menurut jadwal yang dipublikasikan oleh LPDP, keputusan lolos administrasi untuk Batch 3 ini jatuh pada tanggal 27 Juli kemarin. Pertanyaan saya:
1. Apakah mungkin pengumuman lolos atau tidaknya melewati jadwal yang telah di tentukan?
2. Apakah yang mendapat kabar hanya mereka yang lolos, atau meskipun tidak lolos akan tetap dikabari?
3. Menurut web pendaftaran online, disebutkan bahwa kabar lolos atau tidaknya akan diberitahukan melalui email / telepon yang sudah dicantumkan, namun hingga saat ini saya tidak mendapatkan kabar apa-apa. Pada status di aplikasi saya juga masih tertulis "Formulir Pendaftaran Sudah Dikirimkan" sama seperti sejak saya mendaftarkan aplikasinya. Mohon infonya, status apa saja yang Adelia tau terkait lolos atau tidaknya dalam pendaftaran online?
Terima kasih atas bantuannya, sukses selalu :)

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Rastrianez,
mohon maaf sekali terlambat balas krn ada beberapa kesibukan.

Pengumuman lolos/tidaknya seleksi administrasi biasanya dikirim by email.
Jika tidak lolos pun juga ada pemberitauan by email. Saran saya jika masih belum mendapat kabar apa pun hingga hari ini, coba ditanyakan pada CSO LPDP pada jam-jam pagi di hari kerja.

Unknown mengatakan...

Ass.wr.wb. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN SEMANGATNYA. Mba saya ingin sekali diterima LPDP. Langsung aja ya mba. Berapa lama persiapan semua berkas mba? Dan berapa lama persiapan tes bahasa inggris mba? Menurut yang mba ketahui, apakah semua yang keterima LPDP LN cenderung memiliki nilai IELTS/TOEIC/TOEFL yang tinggi diatas rata2? Apa ada juga yang standar saja nilai tes kemampuan b.ing nya tapi tetap lolos? Kemudian, apakah applicant yang diterima cenderung aktif organisasi dan kegiatan sosial semua mba? Atau ada saja yang applicant yg biasa2 saja kegiatan sosial dan organisasinya, bahkan mahasiswa reguler (kupu-kupu) yang diterima LPDP mba? Kemudian mba ketika keterima disana (di LN) dan telah sampai di negara sana, saya baca di FAQ di sebuah blog, mengenai administrasi (untuk tes interview, essay, etc) lagi ada atau tidaknya disana kan tergantung regulasi universitas masing2. Nah, kalo mengenai tes kesehatan, apa ada tes kesehetan lagi seperti narkoba, TBC, HIV dan semacamnya ketika sampai di negara tujuan? Atau hanya perlu tes yang dari LPDP nya saja? Terimakasih banyak mba. GOOD LUCK DI SANA! SEMOGA BISA NYUSUL.

Adelia Savitri mengatakan...

Halo Kris,
Karena saya awardee DN,hanya ada beberapa hal yg saya tau mengenai pertanyaanmu.
Untuk score IELTS/TOEIC/IBT setau saya selama memenuhi standar minimal LPDP tidak masalah. I mean,tidak harus tinggi-tinggi anat score nya. Pendaftar dg score IELTS hampir sempurna pun belum tentu ketrima karena kriteria penerimaan itu akumulatif dari semua tahapan seleksi.

LPDP tidak hanya mencari anak-anak yang pandai secara akademik. Tapi juga anak yang punya kepekaan sosial dan mampu mengolah kecerdasan emosi dg baik. Sebaiknya memang pernah terlibat dalam kegiatan sosial.

Salah satu syarat berkas pendaftaran di awal, untuk yg LN harus melampirkan surat keterangan bebas TBC.

Demikian informasi yang bisa saya berikan. Mengenai hal-hal teknis di LN akan dijelaskan ketika sudah diterima sbg awardee dalam forum Persiapan Keberangkatan (PK). Tidak perlu khawatir karena setiap negara ada komunitas awardee yg akan siap membantu.
Good Luck.

Unknown mengatakan...

salam dari aceh mbak. saya putri kesuma lulusan dari unsyiah fakultas mipa mtk bulan mei tahun 2016. selamat mba adel atas usahanya yang bersusah payah, untuk mimpi mba ini. mba ada yg ingin saya tanyakan. saya sudah mencba mendaftar di ipb, tapi salah satu syaratnya ada formulir pembiayaan kuliah. nah, saya berencana untuk apply beasiswa lpdp juga. jadi saya bingung mba harus mengisi siapa. mungkin mba tau, boleh di share mba. terima ksih

Unknown mengatakan...

assalamualaikum. Mba Adel, senang sekali dapat informasi dan inspirasi banyak dr blog Mba.
Mba saya mw tanya, utk tunda kuliah s2 UI maksimal berapa lama yah? soalnya saya juga insya ALLAH ingin daftar LPD tp kepending krn toefl saya masih 450.. terimakasih Mba Adel

Adelia Savitri mengatakan...

Dear Putri Kesuma,
Untuk lembar pembiayaan biasanya diisi sponsorship (lembaga beasiswa). Kalau sudah ketrima LPDP, ya diisi LPDP.
Saya dulu untuk sementara saya isi orangtua. Karena belum pengumuman LPDP.
Tetapi setelah ketrima LPDP, saya berikan Surat Keterangan Sponsorship dari LPDP (Letter of Sponsorship (LOS) kepada rektorat yg menyatakan bahwa saya dibiayai LPDP. Biasanya LOS dikoordinasi secara kolektif oleh mahasiswa sesama LPDP di kampus tersebut.

Demikian infonya.

Adelia Savitri mengatakan...

Untuk tunda kuliah di UI maksimal 2 semester (1tahun).
Tergantung prodi masing-masing, bisa menerima mahasiswa baru di semester genap juga (sekitar Januari) atau hanya melakukan penerimaan maba di semester ganjil (sekitar Agustus).

Demikian infonya.

My Journal mengatakan...

Sangat menginspirasi mbak, mbak saya mau nanya mbak, jika kita belum punya loa nanti apa akan memiliki peluang yg lbh sedikit?

Adelia Savitri mengatakan...

Dear Melda,
Saya kira tidak ya. Peluangnya tetap sama bagi pendaftar yg sudah punya LoA maupun yg belum punya.

Antonia Reong mengatakan...

Makasih Yach mbak infox sangat bermanfaat, saya adalah salah satu calon penerima beasiswa LPDP yang akan mengikuti Seleksi substansi Juni 2017 nanti. semoga saya bisa Lolos nantinya :)

sherry mengatakan...

mbak, saya juga sdh dapat LoA dari UI (july 2017 kemarin), dan ingin menunda 1 tahun semster. Tapi saya disuruh isi borang ke direktorat langsung, apa mbak juga begitu dulu??

lalu apakah penundaan itu mengharuskan bayar kuliah dulu?

terimakasiiih

Adelia Savitri mengatakan...

Setau saya, sistem tunda kuliah mulai tahun ini memang seperti itu. Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi saja pihak akademik fakultas atau program studi.

Jika pengajuan tunda kuliah telah disetujui oleh fakultas dan Direktorat Pendidikan, tidak perlu ikut daftar ulang dan otomatis tidak perlu membayar uang kuliah.
Nanti bayarnya ikut daftar ulang ketika akan masuk kuliah di semester berikutnya (setelah tunda).

Posting Komentar

 
;